
Tapanuli Selatan, (Humas) – Suasana Sabtu pagi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tapanuli Selatan tampak berbeda dari biasanya. Setelah apel pagi dan senam bersama yang menjadi rutinitas setiap akhir pekan, halaman madrasah kembali dipenuhi derap langkah para siswa yang berdiri tegap di barisan masing-masing. Di tengah suasana yang dipenuhi semangat kemerdekaan, seorang siswi maju ke depan, berdiri di podium, dan mengangkat tangannya memberi aba-aba. Ia menjadi dirigen untuk memandu seluruh siswa dan guru menyanyikan lagu wajib nasional secara serentak.
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2025, yang dikeluarkan pada 5 Agustus 2025, tentang Upacara Bendera Senin Pagi dan Menyanyikan Lagu Wajib Nasional. Salah satu poin penting dalam edaran tersebut (poin nomor 2) menegaskan bahwa sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, seluruh warga madrasah diwajibkan menyanyikan lagu wajib nasional. Langkah ini bertujuan menumbuhkan semangat kolektif dalam mewujudkan rasa cinta tanah air, terlebih di bulan kemerdekaan.
Kepala MAN Tapanuli Selatan, Juhan Siregar, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pelaksanaan instruksi tersebut adalah bagian dari upaya membangun karakter peserta didik.
“Kegiatan ini bukan hanya kewajiban administratif, tetapi bagian dari Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang holistik. Kita ingin menanamkan rasa cinta tanah air melalui kebiasaan yang sederhana namun berdampak besar. Lagu wajib nasional yang kita nyanyikan ini diharapkan dapat membangkitkan semangat belajar dan menumbuhkan jiwa nasionalisme siswa setiap harinya,” tegas beliau.
Menanggapi instruksi tersebut, Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik, Suparno, S.Pd., M.Sc., segera memberikan arahan kepada petugas piket harian agar kegiatan ini dapat berjalan tertib. Para petugas memastikan barisan siswa sudah rapi, dirigen siap memimpin, dan suasana kondusif tercipta. Tidak hanya siswa, seluruh guru dan pegawai turut berdiri di barisan masing-masing, memberikan contoh disiplin dan semangat kebersamaan.
Suasana pagi itu begitu khidmat. Lagu wajib nasional bergema memenuhi halaman madrasah, diiringi suara lantang dan penuh penghayatan dari ratusan siswa. Wajah-wajah penuh semangat berpadu dengan kebanggaan mengenakan seragam madrasah. Beberapa siswa bahkan mengibarkan bendera kecil Merah Putih yang mereka bawa dari rumah, menambah semarak suasana peringatan kemerdekaan.
Bagi sebagian siswa, momen ini menjadi pengalaman berkesan. Mereka merasa lebih siap memulai pelajaran setelah bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan. Seorang siswa kelas XI mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuatnya lebih bersemangat, terlebih di bulan Agustus yang penuh dengan makna perjuangan.
“Rasanya seperti kita ikut berjuang, walau hanya lewat lagu. Tapi semangatnya benar-benar terasa,” ujarnya sambil tersenyum.
Dengan dimulainya kebiasaan positif ini, MAN Tapanuli Selatan berharap seluruh warga madrasah dapat menjaga dan menghidupkan nilai-nilai kebangsaan. Tidak hanya di bulan Agustus, tetapi juga sepanjang tahun, sehingga rasa nasionalisme tetap terpatri kuat di hati generasi muda. (hen)

